Minggu, 12 Januari 2014

Sebuah Renungan

Sebuah Renungan [dakwah.glestradio]
Kalau kita mencoba untuk merenung sejenak dan melupakan semua kesibukan sehari-hari maka kita akan menyadari bahwa manusia jaman sekarang ini paling lama umurya 80 tahun. Itu pun sudah termasuk panjang umur. tetapi kita sering lupa akan hal ini sehingga mati-matian mengejar uang, harta, jabatan dan mngeabaikan hati nurani kita. Kita menginjak dan menghina orang yang tidak seberutung kita dan menjilat serta mencari muka terhadap orang kaya dan berpangkat.

Kita menilai orang dari mobil, rumah, harta, atau jabatannya dan bukan pada pribadi seseorang. ini yang membuat kita menjadi orang yang egois, serakah, sombong, matrealistis, dan mebutakan hati nurani kita sendiri. Masing-masing orang bersaing untuk saling melebihi dan pamer kekayaan, pamer ruamah, pamer mobil, dan lai-lain. Padahal itu semua hanya membuat orang tidak seberuntung kita menjadi panas hati dan iri hati.

Untuk itu kita harus sadar dan ingat bahwa hidup ini tidak semata-mata mengejar uang, harta, jabatan, tapi yang utama hidup ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna dan bermanfaat baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Itu semua membuat kita merrasa puas, bahagia, rendah hati dan mempunyai empati terhadap orang yang tidak seberuntung kita.

Rejeki kita tidak akan habis, malahan rejeki kita akan lancar dan tidak terputus jika kita mau berbagi sebagian rejeki kita untuk orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan bantuan kita.

Marilah hidup ini kita isi dengan perbuatan-perbuatan yang berguna dan bermanfaat baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain.

Sumber: jagatmotivasi.com

Masjid adalah Sumber Kebaikan

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah [9]: 17-18)

Mukaddimah
Abdullah bin Abbas menceritakan, ayat ini turun terkait Abbas bin Abdul Muththalib –yang masih musyrik saat itu- ikut tertawan dalam perang Badar bersama musyrikin Makkah. Ketika itu orang-orang Islam lalu datang mencela karena mereka berani memerangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berujung kepada putusnya tali kerabat di antara mereka.

Menanggapi hal itu Abbas lalu menyanggah, “Kalian ini hanya mampu menyebut kejelekan dan keburukan kami, sedang kalian tak pernah menilai bahkan menyembunyikan kebaikan yang juga ada pada diri kami.”

Mendengar hal itu para Sahabat terlonjak kaget, “Benarkah kalian juga memiliki kebaikan?” Abbas bin Abdul Muththalib menjawab, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang memakmurkan Masjidil Haram, merawat Ka’bah, dan memberi minum para jamaah haji, serta membebaskan para budak dan tawanan.”

Atas celoteh Abbas bin Abdul Muththalib itulah, Allah merespon dengan menurunkan ayat tersebut. (Tafsir al-Munir, Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili)

Makna Ayat
Ayat ini secara tegas menafikan klaim orang-orang di luar Islam yang terkadang mengaku berbuat baik. Terlebih jika mereka mengaitkan kebaikan itu dengan masjid sebagai rumah Allah sekaligus pusat ibadah bagi kaum Muslimin. Sebab, kebaikan itu bersumber dari keimanan sebagai syarat utama sebuah amalan. Sedang kaum musyrikin –dalam ayat ini- justru mengakui sendiri jika mereka adalah kumpulan orang-orang kafir. Suatu kondisi yang hanya menguatkan posisi mereka sebagai penghuni neraka akibat amalan-amalan mereka yang tertolak.

Memakmurkan Masjid
Masjid yang makmur adalah dambaan setiap Muslim. Bagi orang yang pernah menunaikan haji di Baitullah, tentu merasakan pengalaman spiritual yang sangat berkesan ketika shalat di Masjidil Haram. Suasana masjid begitu khusyuk dengan jumlah jamaah yang membludak. Kesakralan masjid yang didukung dengan arsitektur yang sangat megah menjadikan setiap umat Islam harus menanggung rindu dan berharap kapan lagi bisa shalat dengan suasana seperti itu.

Lebih jauh, mufassir ternama Imam at-Thabari menerangkan, perintah memakmurkan masjid tak cukup dengan pengertian bahasa saja. Yaitu membangun masjid dengan megah atau menjaga kebersihan bangunannya. Lebih dari itu, memakmurkan masjid adalah upaya setiap Muslim mendatangi masjid minimal lima kali sehari semalam. Sebab, begitulah syarat utama dalam memakmurkan masjid. Inilah dua makna memakmurkan masjid yang harus berjalan beriringan yang menjadi tanggungjawab atas setiap pribadi Muslim.
Sebuah bangunan masjid yang megah hanya menyisakan pemandangan indah, jika masjid itu kosong dari orang-orang yang menegakkan shalat berjamaah di dalamnya. Ia hanya potret bangunan bisu, jika ternyata masjid itu senyap dari kegiatan taklim dan pembinaan umat. Sebaliknya, kekhusyukan shalat jadi terganggu kalau rumah Allah itu tidak tersentuh perawatan yang baik. Upaya pencerahan umat bisa ternoda hanya karena masalah kebersihan masjid yang tidak beres.

Masjid Tanda Kebaikan
Lewat ayat ini, Allah memberi tuntunan praktis dalam menentukan orang-orang baik di sekitar kita. Hal ini penting, sebab pada dasarnya kodrat manusia tercipta sebagai makhluk sosial. Manusia adalah lemah dan sangat bergantung kepada orang lain dan lingkungannya. Memilih teman dan lingkungan menjadi perkara mendasar, sebab ia berandil kuat kepada pembentukan karakter orang-orang yang berada di sekitarnya. Oleh karena itu, Nabi bersabda, “Jika kalian melihat orang yang senantiasa datang ke masjid, maka persaksikanlah sesungguhnya ia memiliki modal iman,” (Riwayat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi).

Keimanan yang produktif (iman nafi’) dalam jiwa seorang Muslim niscaya melahirkan kebaikan-kebaikan. Sedang ciri utama kebaikan itu tergambar lewat ibadah shalatnya sebagai pokok amalan yang pertama kali dihisab kelak.

Dalam rumus Islam, kebaikan berupa shalat niscaya mampu menghasilkan sekian banyak kebaikan berikutnya. Sebab, shalat yang benar bisa menjadi tameng dalam menolak kemungkaran yang ada di sekitarnya. Sekaligus ia berfungsi sebagai motivator dalam menyeru kepada amalan-amalan makruf yang lain.

Amru bin Makmun al-Audi menambahkan, “Saya hidup bersama beberapa orang Sahabat Nabi, sedang mereka berkata, ‘Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak lain adalah rumah-rumah Allah di dunia. Maka tentunya kewajiban Allah untuk memuliakan siapa saja tamu yang datang berkujung ke rumah-Nya.’ (Tafsir Ibnu Katsir, Abu al-Fida Ismail bin Katsir).

Masjid, sekali lagi menjadi solusi pertama dalam mengurai permasalahan umat Islam saat ini. Masjid adalah sentral dari seluruh kebaikan masyarakat yang ada. Sebagaimana lingkungan yang baik juga tercermin dari masjid yang ada di sekitar wilayah itu. Jika masjidnya ramai dengan jamaah yang shalat lima waktu, niscaya orang-orang dan lingkungan masjid itu ikut menjadi baik pula.
Sebaliknya jika masjidnya kosong dari jamaah, maka kita patut heran, kebaikan apa lagi yang dicari selain tumpukan kebaikan yang menanti dalam masjid.

Berburu Hidayah Allah
Bagi seorang Muslim hidayah adalah persoalan nomor satu dalam kehidupan ini. Apalah arti kekayaan dan kesehatan jika orang itu tak beroleh hidayah dari Allah. Apalah arti jerih payah di dunia ini kalau pelaku perbuatan itu tak mengawalinya dengan petunjuk Allah. Sejarah telah membuktikan, kurang apa amalan Abu Thalib dalam menolong dakwah Islam. Seluruh keuntungan perniagaannya ia serahkan semuanya untuk membantu langkah dakwah Nabi yang ketika itu masih terseok di kota Makkah. Pengorbanan apa lagi yang belum dilakukan oleh sang paman tersebut kecuali ia belum merasakan manisnya hidayah Allah. Alhasil, semua yang dilakukan tanpa didasari iman dan hidayah hanya berujung kepada penderitaan dan penyesalan seumur hidup saja.

Keimanan itu lahir setelah datangnya hidayah, sebagaimana ia bisa eksis jika orang tersebut masih mendapatkan curahan hidayah dari Allah Sang Pemberi petunjuk. Di penghujung ayat ini Allah Ta’ala memberikan garansi “mulia” bagi orang-orang yang senantiasa memakmurkan masjid. Hidayah yang selama ini menjadi dambaan setiap Muslim rupanya bisa diraih dengan menegakkan shalat berjamaah di masjid.

Imam as-Sa’di mengomentari, kata ’asa yang berarti semoga (terjadi) jika disandarkan kepada Allah, maka ia bermakna suatu hal yang wajib terlaksana. Jika ada yang bertanya, bagaimana cara merawat iman dan hidayah yang ada pada diri ini?

Maka jawabannya sederhana saja, peliharalah shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Niscaya Allah tak sungkan mencurahkan hidayah-Nya kepada orang-orang yang memakmurkan rumah-Nya. *Masykur, pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Balikpapan
SUARA HIDAYATULLA, MARET 2012

Sumber: majalah.hidayatullah.com

5 Adab Dalam Bepergian (Safar) Agar Perjalanan Anda Bernilai Ibadah

Hidup terus berputar bagaikan roda pedati. Ada yang datang dan ada pula yang pergi, ada suka dan duka yang kesemua itu merupakan ketetapan sang Maha Pencipta. Dunia adalah tempat persinggahan sementara dalam perjalanan menuju akhirat. Oleh karenanya, sepantasnyalah bagi kita mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang tersebut.
 
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”.(QS. Al-Baqarah: 197).
Begitu pula jika ketika kita hendak melakukan perjalanan  di suatu tempat, maka kita harus mempersiapkan bekal. Bekal yang paling utama yang harus di miliki oleh seseorang ketika hendak melakukan suatu perjalanan adalah ilmu. Supaya perjalanannya bisa mendapatkan ridho Allah dan tetap di atas tuntunan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- .
Pembaca yang budiman, safar (perjalanan jauh) tidak bisa lepas dari kehidupan seseorang. safar merupakan suatu kebutuhan manusia, seperti haji, umrah, menuntut ilmu, berbisnis, silatirahmi dengan kelurga, tugas dakwah dan kewajiban lainnya yang mengharuskan adanya safar. Allah -Subhana Wa Ta’ala- tidak membiarkan hambanya hanya asyik berdiam diri di mesjid untuk beribadah kepada-Nya, namun sebaliknya memerintahkan untuk segera menyebar di muka bumi. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.( QS. Al-Jumu’ah :10)

Bahkan ada manusia yang menggantungkan hidupnya di atas roda kendaraannya dalam mencari nafkahnya dengan melakukan safar kemana-mana, seperti supir bus antar daerah, pilot pesawat dan lainnya. Mereka menghabiskan waktunya dalam safar sehingga mereka sangat membutuhkan ilmu syar’i agar bisa menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana telah menyempurnakan agamanya dan telah menetapkan beberapa aturan ketika sesorang bersafar. Allah -Ta’ala- memberi dispensasi bagi orang yang bersafar dibanding orang yang mukim dalam melaksanakan kewajiban. Oleh sebab itu, pada edisi kali ini kami akan sajikan beberapa adab ketika bersafar sehingga safar kita bisa bernilai ibadah.
1.       Anjuran berpamitan  bagi orang yang hendak bepergian.
Ketika sseseorang hendak bepergian, dianjurkan untuk berpamitan kepada keluarga, kerabat dan kawan-kawan. Sebab Allah menjadikan berkah di dalam doa mereka. Inilah sunnah yang banyak dilupakan oleh kaum muslimin pada hari ini, yaitu melepas kepergian dengan doa yang telah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Qoza’ah berkata, “Ibnu umar pernah berkata kepadaku,’ marilah kulepas kepergianmu sebagaimana Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melepas kepergianku,
 
“Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan penuntup amalmu”.[HR. Abu Dawud (2600). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 14)]
Al-Imam Ath-Thibiy -rahimahullah- berkata, “Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- menjadikan agama dan amanah seseorang sebagai titipan, karena di dalam safar seseorang akan tertimpa rasa berat, dan takut sehingga hal itu menjadi sebab tersepelekannya sebagian perkara-perkara agama. Lantaran itu, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakan kebaikan bagi orang yang safar berupa bantuan dan taufiq. 

Seseorang dalam safarnya tersebut tak akan lepas dari kegiatan yang ia perlukan di dalamnya berupa mengambil dan memberi sesuatu, bergaul dengan manusia. Karena itulah, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- mendoakannya agar dipelihara sifat amanahnya, dan dijauhkan dari sifat khianat. Kemudian, jika ia kembali kepada keluarganya, maka akhir urusannya aman dari sesuatu yang membuatnya buruk dalam perkara agama dan dunianya”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidziy (8/338)]
Inilah hikmahnya seseorang saling mendoakan saat seseorang bepergian. Selain itu, berpamitan juga memiliki manfaat lain, yaitu ia merupakan kesempatan untuk memberi wasiat, pesan, dan lainnya. Sebab banyak orang yang pergi, dan tak diketahui lagi rimbanya sehingga putuslah hubungan silaturahim, atau lainnya.
2.   Makruh hukumnya seseorang bepergian sendiri.
Islam menyerukan kepada pemeluknya untuk senantiasa bersatu dan berjama’ah, bukan berpecah belah. Begitu pula ketika bersafar dianjurkan untuk berjama’ah dan berombongan. Oleh karena itu, jika seseorang ingin melakukan suatu perjalanan, maka hendaklah ia mencari teman-teman dalam perjalanan dan jangan ia pergi seorang diri. Sebab dalam perjalanan banyak ditemukan kesusahan, bahaya, dan penderitaan.
Al-Khoththobiy -rahimahullah- berkata, “Orang yang bepergian sendiri, andaikan ia meninggal, maka tidak ada yang memandikannya dan menguburkannya serta mengurus segala sesuatunya. Juga tidak ada orang yang bisa menerima wasiatnya untuk mengurus harta bendanya dan membawanya kepada keluarganya serta tidak ada yang memberi kabar kepada keluarganya. Tidak ada orang yang membantu membawa perbekalannya selama perjalanannya. Sedangkan jika ia pergi bertiga atau berombongan, maka mereka bisa saling membantu, bahu-membahu, berbagi tugas, bergiliran jaga, melaksanankan shalat secara berjama’ah dan memperoleh bagian dari berjama’ah.”[Lihat ‘Aunul Ma’bud (7/125) cet.Daar Ihya' At-Turats Al-Arabiyyah.]
Lantaran itu, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang seseorang untuk bepergian sendiri  dalam sabdanya,
لَوْ يَعْلَمُ اْلنَّّاسُ مَا فِيْ اْلوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ
 Andaikata manusia mengetahui apa (bahaya) kesendirian sebagaimana yang kuketahui, niscaya tidak ada seorang pengendara pun yang akan berjalan di malam hari dalam keadaan seorang diri. ” [HR. Al-Bukhoriy (no. 2998). ]
Larangan dalam hadits ini mencakup pengendara maupun pejalan kaki. Penyebutan pengendara dalam hadits ini disebabkan karena kebanyakan orang yang bepergian itu memakai kendaraan. Larangan ini pula berlaku pada waktu malam maupun siang hari. Sebab disebutkan dalam hadits ini pada waktu malam, karena malam hari lebih rawan kejahatan dan lebih besar resikonya.
3.      Anjuran untuk menunjuk ketua rombongan dalam sebuah perjalanan
Tatkala melakukan safar secara berombongan maka ia memiliki keterikatan diantara banyak orang. Oleh karenanya, dianjurkan bagi orang yang bepergian secara berombongan dan yang berjumlah tiga atau lebih, agar menunjuk salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan. Tugasnya ialah memimpin dan mengurus segala sesuatu untuk kepentingan mereka bersama. Keputusannya harus dipatuhi oleh seluruh anggota rombongan dengan syarat tidak memerintahkan berbuat maksiat kepada Allah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ,
 
Apabila ada tiga orang yang keluar dalam sebuah perjalanan, maka hendaklah mereka menunjuk salah satu dari mereka menjadi amir(ketua rombongan).”[HR. Abu Dawud (2608). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 1322)]
4.      Larangan membawa anjing dan lonceng dalam perjalanan.
Dalam sebuah hadits Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda,
 
Malaikat tidak mau menemani rombongan yang di dalamnya terdapat anjing dan tidak pula lonceng.”[HR. Muslim dalam Kitab Al-Libas wa Az-Zinah (no. 2113)]
Dalam hadits ini dengan tegas menyatakan larangan membawa anjing dan lonceng ketika bersafar. Sebab akan menghalangi para malaikat menyertai rombongan safar dalam perjalanannya. Hal ini ditunjukkan oleh hadits-hadits yang lain seperti sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang anjing,
 
Para malaikat tidak masuk pada suatu rumah yang di dalamnya ada anjing dan gambar.”[HR. Al-Bukhari dalam Shohih-nya (3075) Muslim Shohih-nya (3929)]
Adapun sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang lonceng, karena lonceng adalah seruling setan. Hal ini dengan jelas dikatakan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sabdanya,
 
Lonceng adalah seruling setan.”[HR. Muslim dalam Kitab Al-Libas wa Az-Zinah (2114)]
Jika para malaikat menjauh dari rombongan, maka hal itu akan menyebabkan keberkahan juga hilang karena melakukan larangan dan juga membawa lonceng. Lalu bagaimana pula dengan orang yang bersafar dengan membawa alat-alat musik atau mendengarkan musik dari awal safarnya sampai ke tujuan? Para malaikat tentu akan lebih menjauh lagi.
Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda dalam mengharamkan musik,
 
Akan ada beberapa kaum diantara ummatku yang akan menghalalkan zina, kain sutera (bagi laki-laki), khomer, dan musik“. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (5590), dan Abu Dawud dalam Sunan-nya (4039)]
Hendaknya safar yang kita lakukan bersih dari anjing, lonceng, musik, dan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah -Azza wa Jalla-.
5.      Larangan bepergian tanpa ada mahram bagi wanita.
Di dalam syariat Islam, seorang wanita tidak boleh bersafar tanpa disertai oleh mahramnya. Sebab hal itu akan menimbulkan fitnah (malapetaka) bagi dirinya dan para lelaki yang ada disekelilingnya. Dengan adanya mahram bagi wanita ketika bersafar, mak ia akan terlindungi dan terawasi serta ada yang mengontrolnya. Sebab orang yang berhati busuk itu banyak dan orang yang matanya jelalatan itu jauh lebih banyak lagi. Oleh karenanya, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
 
Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sepanjang sehari semalam tanpa ditemani mahram. [HR. Al-Bukhari(1088)]
Bahkan Ibnu Abbas -radhiyallahu anhu- pernah mendengar Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
 
“Jangan sekali-kali seorang lelaki berada di tempat yang sepi dengan seorang wanita, dan jangan sekali-kali seorang wanita safar (bepergian jauh), kecuali bersama mahramnya.”
Kemudian ada seorang lelaki berdiri seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku sudah mendapat tugas dalam perang begini dan begini,sementara istriku pergi haji. Beliau lantas bersabda,”Berangkatlah pergi haji berrsama istrimu!!”. [HR.Al-Bukhari (3006)]
Hadits diatas adalah dalil yang paling tegas menunjukkan haramnya seorang wanita bersafar tanpa ada mahram yang meyertainya. Sebab Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih mendahulukan sahabatnya untuk menemani istrinya pergi berhaji daripada ikut berperang.
Al-Imam Abu ZakariyaAn-Nawawi -rahimahullah- berkata,”Tindakan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut mengandung konsep mendahulukan yang lebih penting diantara hal-hal yang bertentangan. Tatkala kepergiannya di medan perang bertabrakan dengan kepergian istrinya menunaikan ibadah haji, maka didahulukanlah ia untuk menemani istrinya. Sebab tugas di medan perang dapat digantikan oleh orang lain, sedang menemani istri pergi haji tidak bisa digantikan oleh siapapun.”[Lihat Al-Minhaj Syarah Shohih Muslim (9/93)]
 
Sumber: abul-harits.blogspot.com