Wanita adalah perhiasan dunia yang sangat indah di mata laki-laki.
Saking indahnya banyak laki-laki yang terpedaya, ketika wanita berhasil
dijadikan anak panah oleh Setan untuk menargetkan sasarannya sekalipun
ia seorang yang shalih. Bagaimana seorang yang shalih yang ahli ibadah
bisa tertipu oleh tipu daya Setan hanya dengan wanita? Padahal ia orang
yang sering berdzikir kepada Allah.
Sa'id bin Al-Musayyab radhiyallahu anhu pernah berkata, "Tidaklah Allah
mengutus seorang nabi, melainkan dia tidak merasa aman dari gangguan
Iblis, yang merusaknya melalui perantara seorang wanita."
Dan dari hasan bin Shalih, dia berkata, "Aku pernah mendengar setan
berkata kepada wanita, "Engkau adalah separuh pasukanku, engkau adalah
anak panah yang kuluncurkan dan aku tidak pernah salah sasaran. Engkau
adalah penyimpan rahasiaku dan engkau adalah utusanku jika aku
membutuhkan."
Kisah ini diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih radhiyallahu 'anhu. Ada
seorang ahli ibadah di kalangan bani israel. Dia adalah orang yang
paling tekun beribadah pada zamannya. Pada saat itu ada tiga orang laki
laki bersaudara yang memiliki satu saudari lagi, seorang gadis. Ketika
mereka hendak pergi untuk ikut dalam perngiriman satuan pasukan, mereka
tidak tahu siapa yang akan menjaga dan melindungi saudari mereka, dan
kepada siapa dia akan dititipkan. Maka mereka sepakat untuk menitipkan
saudari mereka kepada laki laki ahli ibadah di kalangan Bani Israel.
Dengan penuh keyakinan mereka mendatangi ahli ibadah itu dan memintanya
untuk sudi dititipi saudari mereka, yang berarti saudari mereka itu
harus menetap di tempat ahli ibadah dan dalam lindungannya hingga mereka
kembali dari peperangan. Namun ahli ibadah menolak permintaan mereka
dan dia berlindung kepada Allah dari keberadaan saudari mereka. Mereka
terus mendesak ahli ibadah itu hingga akhirnya dia berkenan. Ahli ibadah
itu berkata, "Suruhlah dia menginap di sebuah bilik di lantai bawah
biaraku."
Maka mereka menempatkan saudarinya di bilik yang dimaksudkan kemudian
mereka meninggalkannya. Dengan begitu, gadis tersebut berada di tempat
ahli ibadah untuk sekian lama, yang selama itu pula ahli ibadah turun
dari biaranya untuk memberikan makanan kepada sang gadis. Dia meletakkan
makanan di dekat pintu biara, kemudian menutupnya kembali lalu naik ke
lantai atas dalam biaranya. Setelah itu sang gadis keluar dari biliknya
untuk mengambil makanan yang sudah diletakkan ahli ibadah.
Setan cukup sabar menghadapi ahli ibadah itu dan senantiasa membuatnya
senang melakukan kebaikan, sambil membesar besarkan masalah jika gadis
itu keluar pada siang hari dan menakut nakutinya andaikan ada orang lain
yang melihat keberadaan gadis itu di biaranya. Maka setan menambahi
tipu muslihatnya dengan berkata, "Andaikan engkau mau berjalan ketika
membawa makanannya , lalu engkau meletakkannya didepan biliknya, tentu
pahalamu semakin bertambah besar."
Setan terus menerus membujuknya hingga dia mau berjalan mendekati bilik
gadis dan meletakkan makanannya di depan pintunya, tanpa berbicara
sedikitpun. Hal ini terjadi hingga beberapa lama.
Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan menganjurkannya kepada suatu
kebaikan, seraya berkata, "Andaikata engkau mau berjalan membawa
makanannya dan meletakannya di dalam biliknya, tentu pahalamu semakin
besar." Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah hingga dia mau berjalan
membawa makanannya dan meletakkannya di dalam bilik sang gadis. Hal ini
terjadi hingga beberapa lama.
Iblis menyuruh ahli ibadah kepada kebaikan dan menganjurkannya, seraya
berkata, "Andaikata engkau mau berbicara dan mengobrol dengannya, tentu
engkau akan bisa menjaganya, karena dia bisa saja dimangsa binatang
buas." Iblis senantiasa membujuknya, hingga ahli ibadah itu mau
berbincang bincang dengan sang gadis dari atas lantai di atas biaranya
hingga beberapa lama.
Setelah itu Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata membujuknya,
"Andaikata engkau mau turun ke biliknya, duduk di depan pintu biaramu
dan mengajaknya berbincang bincang denganmu, tentu hal itu lebih dia
sukai." Iblis senantiasa membujuknya hingga ahli ibadah mau duduk di
depan pintu biaranya dan keduanya berbincang bincang. Hal ini terjadi
hingga beberapa lama.
Iblis mendatangi ahli ibadah dan mengajurkan sesuatu yang selayaknya ia
lakukan. Iblis berkata, "Andaikata engkau keluar dari biaramu dan duduk
di dekat pintu biliknya, lalu engkau berbincang bincang dengannya, tentu
lebih menyenangkan hatinya. Iblis senantiasa membujuk ahli ibadah
hingga akhirnya dia benar-benar melaksanakannya. Hal ini terjadi hingga
beberapa lama.
Iblis mendatangi ahli ibadah lagi dan memberinya anjuran tentang pahala
yang akan diperolehnya di sisi Allah jika dia mau mengerjakannya. Iblis
berkata, "Andaikan saja engkau mau keluar dari biaramu dan duduk lebih
dekat lagi ke pintu bilik si gadis itu serta berbincang bincang
dengannya tanpa perlu keluar dari sana." Ahli ibadah melakukan anjuran
Iblis ini dan hal ini berjalan hingga beberapa lama.
Kemudian Iblis mendatangi ahli ibadah dan berkata, "Andaikata engkau mau
masuk ke dalam bilik gadis itu, berbincang bincang dengannya dan tanpa
diketahui seorang pun, maka hal ini tentu lebih baik bagimu." Maka
sehari penuh ahli ibadah menemani sang gadis di dalam biliknya. Ketika
hari sudah senja, dia keluar dan naik ke lantai atas dari biaranya
Iblis mendatangi ahli ibadah dan terus menerus membujuknya, hingga dia
berani memegang paha sang gadis dan memeluknya. Iblis terus memperdaya
ahli ibadah dengan membisikkan bahwa hal itu merupakan kebaikan, hingga
akhirnya dia menyetubuhinya dan gadis itu pun hamil. Ketika tiba
saatnya, gadis itu melahirkan seorang bayi. Iblis mendatangi ahli ibadah
seraya berkata, "Apa pendapatmu jika saudara saudaranya datang
sementara saudari mereka telah melahirkan seorang bayi akibat
perbuatanmu? Apa yang hendak engkau lakukan? Tentu saja aku tak berani
menjamin dirimu, bahwa nama baiknya akan tercemar, atau mereka akan
mencemarkan nama baikmu. Karena itu hampirilah bayi itu, bunuhlah dia,
lalu kuburkan mayatnya. Gadis itu akan merahasiakannya karena takut
andaikan saudara saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadap
dirinya."
Maka ahli ibadah itu melakukan apa yang dianjurkan Iblis. Lalu Iblis
berkata lagi, "Apakah menurut pendapatmu wanita itu akan menyembunyikan
kepada saudara saudaranya apa yang telah engkau perbuat terhadap dirinya
dan anaknya? Ambillah wanita itu, bunuhlah dia dan kubur bersama
anaknya!"
Ahli ibadah benar benar mengikuti anjuran Iblis, membunuh dan mengubur
gadis itu bersama anaknya. Dia juga membuat sebuah lubang dan meletakkan
sebuah batu besar diatasnya setelah meratakan tanahnya. Setelah itu ia
naik ke lantai atas biaranya untuk beribadah disana. Tidak berapa lama
berselang seperti yang dikehendaki Allah, saudara saudara sang gadis
datang dari peperangan, lalu mereka mendatangi biara dan menanyakan
saudari mereka. Ahli ibadah menangis dan menunjukkan belas kasihannya
terhadap saudari mereka seraya berkata, "Dia adalah seorang wanita yang
paling baik. Itu adalah kuburannya. Lihatlah!"
Mereka mendatangi kuburan saudari mereka dan menangis disana sebagai
luapan kasih sayang mereka. Beberapa hari mereka berada di kuburan itu
lalu mereka pulang ke rumah.
Pada malam harinya dan setelah mereka tidur, setan mendatangi mereka
lewat mimpi. Setan muncul dalam rupa seorang musafir. Pertama kali ia
datang dalam mimpi salah seorang di antara mereka yang paling tua. Setan
bertanya tentang nasib saudarinya. Orang itu menjawab seperti apa yang
dikatakan ahli ibadah, bagaimana kematiannya dan bagaimana kasih sayang
yang ditunjukkannya terhadap saudarinya itu. Bahkan ahli ibadah itu juga
menunjukkan kuburannya. Namun setan menyangkal semua itu seraya
berkata, "Ahli ibadah itu tidak berkata jujur tentang saudari kalian.
Saudari kalian itu telah hamil dan melahirkan bayi karena perbuatan ahli
ibadah, lalu dia membunuh saudari kalian dan menguburnya di balik pintu
sebelah kanan di bilik yang ditempati saudari kalian. Pergilah kesana
dan buktikan sendiri, tentu kalian akan mendapatkan apa yang kukatakan
ini."
Lalu Iblis mendatangi dua saudaranya yang lain dan mengatakan hal yang
sama. Ketika sudah bangun mereka merasa heran dengan mimpi yang mereka
alami dan mereka semakin heran ketika mereka memberi tahu tentang mimpi
mereka masing masing.
"Ini hanya sekedar mimpi, kalian tak perlu memperdulikannya" kata yang paling tua .
Yang paling muda berkata, "Demi Allah aku tidak akan surut sebelum mendatangi tempat itu dan memeriksanya."
Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk mendatangi bilik yang dulu
ditempati saudarinya. Mereka membuka pintu dan mencari cari tempat
seperti yang diberitahukan kepada mereka lewat mimpi. Ternyata benar,
saudari mereka dan anaknya terkubur di tempat itu. Mereka menemui ahli
ibadah dan menanyakan tentang nasib saudari mereka dan tak ada pilihan
lain bagi ahli ibadah selain mengakuinya karena godaan setan. Mereka pun
menurunkan ahli ibadah dari biaranya dan siap untuk di salib. Tatkala
ahli ibadah itu sedang diikat di papan, setan menemuinya seraya berkata,
"Tentunya engkau sudah tahu bahwa sebenarnya akulah yang telah
menggodamu dengan kehadiran wanita itu, lalu engkau membuatnya hamil,
lalu engkau membunuhnya dan anaknya. Jika pada saat ini engkau tunduk
kepadaku dan kufur kepada Allah yang telah menciptakanmu dan membentuk
dirimu, tentu engkau akan selamat dari keadaan yang akan menimpamu
ini.."
Maka ahli ibadah itu menyatakan kufur kepada Allah. Namun kemudian setan
meninggalkannya begitu saja dan membiarkan orang orang menyalibnya.
Karena peristiwa inilah Allah menurunkan ayat, surah Al Hasyr : 16.
"(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika
dia berkata kepada manusia: 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu
telah kafir, maka ia berkata: 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu,
karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam'."
Sungguh benar perkataan Al Haasan bin Shalih yang mengatakan
"Sesungguhnya setan benar-benar akan membukakan 99 pintu kebaikan bagi
seorang hamba, untuk tujuan membuka satu pintu keburukan."
Nabi shalallahu 'alayhi wasallam bersabda:
"Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya
bagi laki laki (melainkan fitnah yang datang dari) wanita." Dikeluarkan
oleh Bukhari (9/5096); Muslim (4/2097), Ibnu Majah (3998) dan
At-Tirmidzi (2780) dan dia berkata: "Hadits Hasan Shahih"
Sumber: dari buku "Perangkap Setan" karya Ibnul Jauzy penerbit Al Kautsar.
Sumber: seribusatukisahislami.blogspot.com
Selasa, 08 April 2014
Catatan Hitam Dicky Ambon, Preman yang Dibunuh di Selnya Sendiri
Dia gembong preman yang pernah dihukum karena kasus pemerkosaan.
![]() |
Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias Dicky Ambon (31 tahun), gembong preman yang mati diberondong di Lapas Cebongan, Yogyakarta, 23 Maret 2013 (Istimewa) |
Di antara sekian narapidana, para penyerang--sebuah kelompok misterius bersenjata laras panjang yang tampaknya amat terlatih--hanya mengincar empat tahanan ini. Bergerak dengan taktis, dalam tempo kurang dari 10 menit, kelompok itu mendobrak penjara dan tanpa kesulitan langsung menemukan target mereka. Dan keempat narapidana itu pun langsung tewas mereka eksekusi, di dalam sel mereka sendiri.
Rupanya, mereka berempat
adalah tersangka kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang prajurit TNI
anggota Detasemen Pelaksana Intelijen Kodam IV Diponegoro, Sersan
Kepala Heru Santosa. Mereka adalah Hendrik Benyamin Sahetapy Engel alias
Dicky Ambon (31 tahun), Yohanes Juan Mambait alias Juan (38 tahun),
Gameliel Yermianto Rohi Riwu alias Adi (29 tahun), dan Adrianus Candra
Galaja alias Dedi (33 tahun).
Dua di antara mereka, Dicky dan Juan, bukan kaum rahib. Mereka punya banyak catatan kriminal di wilayah Yogyakarta. Bahkan, Dicky--lelaki kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur--tertera pada data Polresta Yogyakarta pernah ditahan dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Yang lebih "hebat" lagi, saat ditangkap dalam kasus pemerkosaan, dia baru saja bebas bersyarat dengan sisa masa tahanan 2,5 tahun akibat kasus pembunuhan di Jalan Solo pada tahun 2002.
"Jadi, tersangka itu (Dicky Ambon) dalam masa bebas bersyarat," kata Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Komisaris Pol. Dodo Hendro Kusuma, Rabu 27 Maret 2013.
Dua di antara mereka, Dicky dan Juan, bukan kaum rahib. Mereka punya banyak catatan kriminal di wilayah Yogyakarta. Bahkan, Dicky--lelaki kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur--tertera pada data Polresta Yogyakarta pernah ditahan dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Yang lebih "hebat" lagi, saat ditangkap dalam kasus pemerkosaan, dia baru saja bebas bersyarat dengan sisa masa tahanan 2,5 tahun akibat kasus pembunuhan di Jalan Solo pada tahun 2002.
"Jadi, tersangka itu (Dicky Ambon) dalam masa bebas bersyarat," kata Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Komisaris Pol. Dodo Hendro Kusuma, Rabu 27 Maret 2013.
![]() |
| Dedi, anggota geng preman Dicky Ambon |
Dalam kasus pemerkosaan,
Dicky diganjar hukuman penjara selama 3,5 tahun oleh Pengadilan Negeri
Yogyakarta. Perbuatan laknat itu dinyatakan terbukti dia lakukan pada 19
Agustus 2007. Saat itu, dia bersama Viktor Ndoen alias Ito, dengan
mengendarai mobil milik pacar korban menjemput korban di pondokannya di
kawasan Seturan, Yogyakarta. Dijemput pakai mobil pacarnya dan dibohongi
bahwa dia telah ditunggu pacarnya di sebuah kafe, korban pun mau diajak
pergi. Ternyata, di tengah jalan dia diperkosa Dicky.
"Korban ditelanjangi dan diperkosa di dalam mobil. Setelah itu, dibawa ke asrama tersangka (Dicky) dan diperkosa lagi bersama Ito. Keesokan harinya, korban diantar pulang oleh Ito menggunakan sepeda motor," Kompol Dodo menjelaskan.
"Korban ditelanjangi dan diperkosa di dalam mobil. Setelah itu, dibawa ke asrama tersangka (Dicky) dan diperkosa lagi bersama Ito. Keesokan harinya, korban diantar pulang oleh Ito menggunakan sepeda motor," Kompol Dodo menjelaskan.
Dicky tinggal di Asrama NTT di kawasan Lempuyangan, Yogyakarta.
Korban lalu melapor ke polisi. Tahu diburu aparat, Dicky dan Ito lari ke Kupang. Polresta Yogyakarta langsung menetapkan mereka sebagai buronan dan memasukkan nama mereka dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Berkat bantuan dari Polda NTT, dua begundal itu berhasil ditangkap.
Riwayat Yohanes Juan Mambait alias Juan tak kurang hitamnya. Dia adalah mantan anggota Polresta Yogyakarta. Pria kelahiran Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur itu lalu dipecat dengan tidak hormat dari Polri karena terlibat kasus narkoba.
"Mantan anggota polisi yang terlibat pengeroyokan adalah YD alias Juan. Baru sekitar tiga bulan lalu dia menghirup udara bebas dalam kasus narkoba," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Komisaris Besar Pol. Kris Erlangga, Selasa.
Korban lalu melapor ke polisi. Tahu diburu aparat, Dicky dan Ito lari ke Kupang. Polresta Yogyakarta langsung menetapkan mereka sebagai buronan dan memasukkan nama mereka dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Berkat bantuan dari Polda NTT, dua begundal itu berhasil ditangkap.
Riwayat Yohanes Juan Mambait alias Juan tak kurang hitamnya. Dia adalah mantan anggota Polresta Yogyakarta. Pria kelahiran Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur itu lalu dipecat dengan tidak hormat dari Polri karena terlibat kasus narkoba.
"Mantan anggota polisi yang terlibat pengeroyokan adalah YD alias Juan. Baru sekitar tiga bulan lalu dia menghirup udara bebas dalam kasus narkoba," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Komisaris Besar Pol. Kris Erlangga, Selasa.
Di dunia hitam
Yogyakarta, nama Dicky Ambon sudah tak asing lagi. Dia dikenal merupakan
gembong kelompok preman yang amat ditakuti dan kerap membuat onar.
Wilayah kekuasaannya antara lain membentang di sepanjang Jalan Solo,
Yogyakarta.
Serangan terhadap negara
Di luar perilaku bejat Dicky cs, penyerangan brutal ini membuat geram banyak kalangan, termasuk Presiden SBY.
"Presiden SBY menyatakan
pembunuhan brutal terhadap empat tahanan Lapas Cebongan di Sleman adalah
bentuk serangan langsung terhadap kewibawaan negara," kata Staf Khusus
Presiden Bidang Komunikasi Politik, Daniel Sparringa.
Presiden memerintahkan Kapolri untuk menyeret semua pelaku penyerangan ke pengadilan. Kepada Panglima TNI, Presiden menginstruksikan agar seluruh jajaran militer bekerja sama dengan Polri untuk mengungkap identitas para pelaku.
Presiden memerintahkan Kapolri untuk menyeret semua pelaku penyerangan ke pengadilan. Kepada Panglima TNI, Presiden menginstruksikan agar seluruh jajaran militer bekerja sama dengan Polri untuk mengungkap identitas para pelaku.
![]() |
| Lapas Cebongan usai diserang gerombolan bersenjata, 23 Maret 2013 |
Kasus ini juga membuat
gerah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hemengku Buwono X. Dia
mengingatkan komitmen para pendatang di Yogyakarta untuk menjaga
kerukunan dan keharmonisan di Kota Gudeg. Sultan mengingatkan bahwa
perwakilan mahasiswa dari 10 perguruan tinggi di Yogyakarta telah
membuat kesepakatan. Jika terlibat aksi kekerasan, maka mereka harus
keluar dari Yogyakarta.
"Itu janji mereka. Maka
jika ada kekerasan lagi yang melibatkan etnis, lebih baik keluar dari
Yogyakarta!" kata dia dengan nada tinggi, Rabu 27 Maret 2013.Sultan mensinyalir berbagai aksi kekerasan yang kerap melibatkan mahasiswa dan pemuda dari suku tertentu di Yogyakarta terjadi antara lain karena keengganan mereka untuk bergaul dan berbaur dengan lingkungan setempat. Akhirnya, yang muncul malahan solidaritas dan arogansi etnis yang berlebihan di antara mereka.
Untuk mengatasi masalah ini, Sultan menyatakan akan mempersulit pemberian izin pembangunan asrama berbau kesukuan di Yogyakarta. "Saya imbau kepada para bupati dan walikota di Yogya untuk mempersulit izin pembangunan asrama yang hanya untuk menampung etnis tertentu, karena asrama etnis telah menjadi salah satu sumber terjadinya konflik."
Sultan pun berpesan, "Mahasiswa dari Kalimantan, Batak, Papua, NTT, dan pulau lain, janganlah menjadi orang Jawa, karena memang bukan orang Jawa. Tapi jadilah mahasiswa Batak yang baik, mahasiswa NTT yang baik."
Sumber: fokus.news.viva.co.id
Tiga Ciri Kebahagiaan
Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah. Amma ba’du.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, menjadi orang yang bahagia adalah cita-cita setiap insan. Meskipun demikian banyak orang yang tidak mengetahui jalan dan kaidah untuk meraih kebahagiaan. Bagi sebagian orang bahagia dimaknakan dalam bentuk kemewahan dunia. Bagi sebagian lainnya, kebahagiaan diartikan dengan popularitas dan ketinggian kedudukan di mata manusia.
Perbedaan sudut pandang itulah yang menggiring manusia untuk menempuh jalan yang berbeda-beda dalam mencari kebahagiaan yang mereka sangka. Bagi mereka yang memandang harta sebagai kunci bahagia maka mengejarnya dengan cara apapun adalah jalan untuk menggapainya. Bagi mereka yang menilai bahwa kebahagiaan ada pada kedudukan dan jabatan maka segala cara untuk mendapatkan tampuk kekuasaan dan kepimpinan adalah jembatan menuju bahagia menurut mereka.
Bagi insan beriman, tentu saja kebahagiaan itu ada pada nilai-nilai ibadah dan penghambaan kepada Allah ta’ala. Sebab Allah telah menjadikan kebahagiaan dan ketentraman bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah ta’ala juga menegaskan (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’aam: 82)
Allah ‘azza wa jalla juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])
Tonggak-tonggak kebahagiaan itu berporos pada tiga perkara:
Syukur, sabar, dan istighfar. Inilah tiga ciri kebahagiaan. Ibnul Qayyim rahimahulllah mengatakan, “Sesungguhnya ketiga perkara ini adalah pertanda kebahagiaan seorang hamba, itulah tanda akan keberuntungan dirinya di dunia dan di akhirat…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5 cet. Dar ‘Alam al-Fawa’id)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)
Mensyukuri Nikmat Allah
Syukur dibangun di atas tiga perkara:
Para ulama menjelaskan, bahwa antara syukur dan pujian[al-hamdu] memiliki sedikit perbedaan. Syukur dilakukan sebagai tanggapan dan ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diberikan. Adapun pujian bisa saja muncul bukan karena nikmat atau pemberian namun karena kesempurnaan Dzat yang dipuji. Syukur diwujudkan melalui lisan dan perbuatan, sedangkan pujian hanya dalam bentuk ucapan lisan (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih alusy Syaikh hafizhahullah, hal. 5)
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “Alhamdu/pujian adalah lawan dari celaan.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/29]).
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan syukur. Apabila hamba mengucapkan alhamdulillah, Allah pun mengatakan, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.”.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/30])
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pujian itu ada dua macam: pujian atas kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka itu adalah bagian daripada syukur. Lalu, pujian kepada-Nya atas sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 234, lihat juga Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 23-24)
Syukur lebih luas daripada sekedar mengucapkan alhamdulillah (pujian). Sebab syukur meliputi amalan hati, lisan, dan anggota badan. Namun, apabila dilihat dari sisi sebabnya pujian lebih luas daripada syukur. Karena Allah terpuji bukan hanya disebabkan nikmat yang dikaruniakan-Nya. Akan tetapi Dia juga terpuji karena kesempurnaan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya (lihat al-Is’ad fi Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 14)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apa pun nikmat yang ada pada kalian adalah datang dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Termasuk dalam bentuk nikmat -yang harus kita syukuri- adalah ketaatan yang telah kita lakukan. Ini semuanya adalah anugerah dan nikmat dari Allah. Bahkan, nikmat iman dan ketaatan ini adalah nikmat yang lebih agung daripada nikmat-nikmat keduniaan. Oleh sebab itu sudah semestinya kita senantiasa mensyukurinya (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah, hal. 8)
Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (lihat Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 48).
Mensyukuri nikmat Allah -termasuk di dalamnya nikmat ketaatan- secara lisan adalah dengan menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Dzat yang telah memberikannya, memuji-Nya, dan tidak berpaling/menyandarkan nikmat itu kepada selain-Nya (lihat Transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih alusy Syaikh, hal. 5)
Adapun mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan, misalnya:
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kalian bersyukur maka pasti akan Aku tambahkan nikmat kepada kalian, akan tetapi jika kalian kufur/ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Allah ta’ala berfirman pula (yang artinya), “Betapa sedikit hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Muhammad bin Ka’ab rahimahullah menjelaskan maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (lihat Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65).
Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (lihat al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah ditanya tentang makna zuhud di dunia, beliau menjawab, “Jika dia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan jika dia mendapatkan cobaan musibah maka dia pun bersabar. Itulah zuhud.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/78])
Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Sabar menempati kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Sampai-sampai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Sabar di dalam agama laksana kepala bagi tubuh. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak punya kesabaran sama sekali.” (lihat I’anat al-Mustafid [2/107 dan 109])
Sebelumnya patut untuk kita ketahui, bahwa pada dasarnya sabar itu mencakup sabar ketika tertimpa musibah dan juga sabar ketika mendapatkan nikmat. Sabar ketika mendapatkan nikmat maksudnya adalah tidak menggunakan nikmat itu kecuali dalam ketaatan. Termasuk di dalamnya adalah sabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya yang berkaitan dengan nikmat tersebut. Inilah sabar yang menjadi senjata untuk menangkal fitnah syahwat.
Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan maka kami pun bisa bersabar, akan tetapi tatkala kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bisa bersabar.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 342)
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Sumber dari semua fitnah [kerusakan] adalah karena mendahulukan pemikiran di atas syari’at dan mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Sebab yang pertama merupakan sumber munculnya fitnah syubhat, sedangkan sebab yang kedua merupakan sumber munculnya fitnah syahwat. Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan [ilmu], sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan sabar dan keyakinan akan dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…” (lihat Ighatsat al-Lahfan hal. 669)
Yang dimaksud sabar ketika tertimpa musibah adalah sebagaimana dikatakan oleh Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah. Beliau berkata, “Hakikat sabar adalah tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah (karena merasa tidak puas terhadap takdir, pent) maka hal itu tidaklah meniadakan kesabaran.” (lihat Syarh Muslim [3/7])
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.” (QS. at-Taghabun: 11).
‘Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, “Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 345-346)
Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila tertimpa kesulitan dia bersabar, maka hal itu juga kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)
Pengaruh Sabar dan Syukur
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab seorang hamba untuk bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan kepadanya. Hal itu dikarenakan sabar dan syukur merupakan pondasi keimanan. Separuh iman itu adalah sabar, separuhnya lagi adalah syukur. Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada sabar dan syukur yang tertanam di dalam dirinya. Sementara, ayat-ayat Allah hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya. Imannya itu pun tidak akan sempurna tanpa sabar dan syukur. Pokok syukur itu adalah tauhid. Adapun pokok kesabaran adalah meninggalkan bujukan hawa nafsu. Apabila seseorang mempersekutukan Allah dan lebih memperturutkan hawa nafsunya, itu artinya dia belum menjadi hamba yang penyabar dan pandai bersyukur. Oleh sebab itulah ayat-ayat yang ada menjadi tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menumbuhkan keimanan pada dirinya sama sekali.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/145])
Istighfar dan Taubat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertaubat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah [2] : 222).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Maa’idah [5] : 74).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur [24] : 31).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 49-50 tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Dari al-Agharr bin Yasar al-Muzani radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 50 tahqiq Syaikh Ali al-Halabi)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 50 tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum berada di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 51tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata, “Tidakkah engkau melihat umat manusia, betapa banyaknya mereka? Tidak ada yang baik diantara mereka kecuali orang yang bertakwa atau orang yang bertaubat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 225)
Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [1/23])
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau busuk niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 82)
Ibnul Mubarak rahimahullah berkata dalam syairnya,
Kulihat tumpukan dosa mematikan hati
Mengidapnya membuat diri bertambah hina
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Yang terbaik untukmu tentu mencampakkannya
(lihat Tazkiyat an-Nufus, hal. 32)
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 69)
Habib Abu Muhammad rahimahullah berkata, “Salah satu tanda kebahagiaan bagi seorang hamba adalah apabila dia mati maka ikut mati pula dosa-dosanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)
Sumber: abu0mushlih.wordpress.com
Kaum muslimin yang dirahmati Allah, menjadi orang yang bahagia adalah cita-cita setiap insan. Meskipun demikian banyak orang yang tidak mengetahui jalan dan kaidah untuk meraih kebahagiaan. Bagi sebagian orang bahagia dimaknakan dalam bentuk kemewahan dunia. Bagi sebagian lainnya, kebahagiaan diartikan dengan popularitas dan ketinggian kedudukan di mata manusia.
Perbedaan sudut pandang itulah yang menggiring manusia untuk menempuh jalan yang berbeda-beda dalam mencari kebahagiaan yang mereka sangka. Bagi mereka yang memandang harta sebagai kunci bahagia maka mengejarnya dengan cara apapun adalah jalan untuk menggapainya. Bagi mereka yang menilai bahwa kebahagiaan ada pada kedudukan dan jabatan maka segala cara untuk mendapatkan tampuk kekuasaan dan kepimpinan adalah jembatan menuju bahagia menurut mereka.
Bagi insan beriman, tentu saja kebahagiaan itu ada pada nilai-nilai ibadah dan penghambaan kepada Allah ta’ala. Sebab Allah telah menjadikan kebahagiaan dan ketentraman bagi orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Allah ta’ala juga menegaskan (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’aam: 82)
Allah ‘azza wa jalla juga berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ibadah kepada Allah, ma’rifat, tauhid, dan syukur kepada-Nya itulah sumber kebahagiaan hati setiap insan. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati. Kenikmatan terindah yang hanya akan diraih oleh orang-orang yang memang layak untuk mendapatkannya…” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/97])
Tonggak-tonggak kebahagiaan itu berporos pada tiga perkara:
- Bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya
- Bersabar dalam menghadapi segala musibah yang menimpa
- Memohon ampunan dari dosa-dosa yang dilakukan
Syukur, sabar, dan istighfar. Inilah tiga ciri kebahagiaan. Ibnul Qayyim rahimahulllah mengatakan, “Sesungguhnya ketiga perkara ini adalah pertanda kebahagiaan seorang hamba, itulah tanda akan keberuntungan dirinya di dunia dan di akhirat…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5 cet. Dar ‘Alam al-Fawa’id)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang hamba senantiasa berada diantara kenikmatan dari Allah yang mengharuskan syukur atau dosa yang mengharuskan istighfar. Kedua hal ini adalah perkara yang selalu dialami setiap hamba. Sebab dia senantiasa berada di dalam curahan nikmat dan karunia Allah dan senantiasa membutuhkan taubat dan istighfar.” (lihat Mawa’izh Syaikhil Islam Ibni Taimiyah, hal. 87)
Mensyukuri Nikmat Allah
Syukur dibangun di atas tiga perkara:
- Mengakui dari dalam hati bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah
- Mengungkapkan pujian kepada-Nya atas nikmat tersebut dengan ucapan lisan
- Memanfaatkan nikmat-nikmat itu dalam rangka menggapai keridhaan Dzat yang telah melimpahkannya; yaitu Allah ta’ala (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 5-6)
Para ulama menjelaskan, bahwa antara syukur dan pujian[al-hamdu] memiliki sedikit perbedaan. Syukur dilakukan sebagai tanggapan dan ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diberikan. Adapun pujian bisa saja muncul bukan karena nikmat atau pemberian namun karena kesempurnaan Dzat yang dipuji. Syukur diwujudkan melalui lisan dan perbuatan, sedangkan pujian hanya dalam bentuk ucapan lisan (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih alusy Syaikh hafizhahullah, hal. 5)
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan setiap orang yang bersyukur.” Abu Nashr al-Jauhari mengatakan, “Alhamdu/pujian adalah lawan dari celaan.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/29]).
Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga mengatakan, “Alhamdulillah adalah ucapan syukur. Apabila hamba mengucapkan alhamdulillah, Allah pun mengatakan, “Hamba-Ku telah bersyukur kepada-Ku.”.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [1/30])
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pujian itu ada dua macam: pujian atas kebaikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka itu adalah bagian daripada syukur. Lalu, pujian kepada-Nya atas sifat-sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.” (lihat Fiqh al-Asma’ al-Husna, hal. 234, lihat juga Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah, hal. 23-24)
Syukur lebih luas daripada sekedar mengucapkan alhamdulillah (pujian). Sebab syukur meliputi amalan hati, lisan, dan anggota badan. Namun, apabila dilihat dari sisi sebabnya pujian lebih luas daripada syukur. Karena Allah terpuji bukan hanya disebabkan nikmat yang dikaruniakan-Nya. Akan tetapi Dia juga terpuji karena kesempurnaan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya (lihat al-Is’ad fi Syarh Lum’at al-I’tiqad, hal. 14)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apa pun nikmat yang ada pada kalian adalah datang dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Termasuk dalam bentuk nikmat -yang harus kita syukuri- adalah ketaatan yang telah kita lakukan. Ini semuanya adalah anugerah dan nikmat dari Allah. Bahkan, nikmat iman dan ketaatan ini adalah nikmat yang lebih agung daripada nikmat-nikmat keduniaan. Oleh sebab itu sudah semestinya kita senantiasa mensyukurinya (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah, hal. 8)
Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa yang tidak mengenali kenikmatan Allah terhadap dirinya selain urusan makanan dan minumannya, maka sungguh sedikit ilmunya dan telah datang adzab untuknya.” (lihat Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 48).
Mensyukuri nikmat Allah -termasuk di dalamnya nikmat ketaatan- secara lisan adalah dengan menyandarkan nikmat-nikmat tersebut kepada Dzat yang telah memberikannya, memuji-Nya, dan tidak berpaling/menyandarkan nikmat itu kepada selain-Nya (lihat Transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih alusy Syaikh, hal. 5)
Adapun mensyukuri nikmat Allah dengan perbuatan, misalnya:
- Jika nikmat itu berupa harta, hendaklah mensedekahkan sebagian darinya, sebab dengan sedekah harta justru berkembang
- Jika nikmat itu berupa ilmu, hendaklah ilmu/kebaikan itu diajarkan kepada orang lain dalam rangka mencari pahala dan supaya orang lain bisa merasakan kebaikan sebagaimana yang telah dia rasakan, sebab tidaklah sempurna iman sampai kita mencintai kebaikan bagi saudara kita sebagaimana apa yang kita cintai untuk diri kita
- Jika nikmat itu berupa kesehatan maka hendaknya digunakan sebaik-baiknya dalam ketaatan dan mencari ridha Allah supaya tidak termasuk orang yang tertipu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua buah nikmat yang membuat banyak orang tertipu, yaitu kesahatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih al-Luhaidan hafizhahullah, hal. 3-4)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh jika kalian bersyukur maka pasti akan Aku tambahkan nikmat kepada kalian, akan tetapi jika kalian kufur/ingkar maka sesungguhnya siksa-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Allah ta’ala berfirman pula (yang artinya), “Betapa sedikit hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Muhammad bin Ka’ab rahimahullah menjelaskan maksud ayat (yang artinya), “Beramallah wahai keluarga Dawud sebagai bentuk syukur.” (QS. Saba’: 13). Kata beliau, “Hakikat syukur adalah bertakwa kepada Allah dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya.” (lihat Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, hal. 65).
Muhammad bin al-Hasan rahimahullah menceritakan: as-Sari bertanya kepadaku, “Apakah puncak syukur itu?”. Aku menjawab, “Yaitu Allah tidak didurhakai pada satu nikmat pun -yang telah diberikan-Nya-.” Lalu dia mengatakan, “Jawabanmu tepat, wahai anak muda.” (lihat al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, hal. 144)
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah pernah ditanya tentang makna zuhud di dunia, beliau menjawab, “Jika dia mendapatkan nikmat maka bersyukur dan jika dia mendapatkan cobaan musibah maka dia pun bersabar. Itulah zuhud.” (lihat Min A’lam as-Salaf [2/78])
Sabar Dalam Menghadapi Musibah
Sabar menempati kedudukan yang sangat agung di dalam Islam. Sampai-sampai Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Sabar di dalam agama laksana kepala bagi tubuh. Sehingga, tidak ada iman pada diri orang yang tidak punya kesabaran sama sekali.” (lihat I’anat al-Mustafid [2/107 dan 109])
Sebelumnya patut untuk kita ketahui, bahwa pada dasarnya sabar itu mencakup sabar ketika tertimpa musibah dan juga sabar ketika mendapatkan nikmat. Sabar ketika mendapatkan nikmat maksudnya adalah tidak menggunakan nikmat itu kecuali dalam ketaatan. Termasuk di dalamnya adalah sabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya yang berkaitan dengan nikmat tersebut. Inilah sabar yang menjadi senjata untuk menangkal fitnah syahwat.
Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu’anhu berkata, “Kami diuji dengan kesulitan maka kami pun bisa bersabar, akan tetapi tatkala kami diuji dengan kesenangan maka kami tidak bisa bersabar.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 342)
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Sumber dari semua fitnah [kerusakan] adalah karena mendahulukan pemikiran di atas syari’at dan mengedepankan hawa nafsu di atas akal sehat. Sebab yang pertama merupakan sumber munculnya fitnah syubhat, sedangkan sebab yang kedua merupakan sumber munculnya fitnah syahwat. Fitnah syubhat bisa ditepis dengan keyakinan [ilmu], sedangkan fitnah syahwat dapat ditepis dengan kesabaran. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan kepemimpinan dalam agama tergantung pada kedua perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bisa bersabar dan senantiasa meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan sabar dan keyakinan akan dicapai kepemimpinan dalam hal agama. Allah juga memadukan keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi fitnah syubhat, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang fitnah syahwat…” (lihat Ighatsat al-Lahfan hal. 669)
Yang dimaksud sabar ketika tertimpa musibah adalah sebagaimana dikatakan oleh Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah. Beliau berkata, “Hakikat sabar adalah tidak memprotes sesuatu yang sudah ditetapkan dalam takdir. Adapun menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk berkeluh-kesah (karena merasa tidak puas terhadap takdir, pent) maka hal itu tidaklah meniadakan kesabaran.” (lihat Syarh Muslim [3/7])
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Benar-benar Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan, serta kekurangan harta, lenyapnya nyawa, dan sedikitnya buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila tertimpa musibah mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kami ini adalah milik Allah, dan kami juga akan kembali kepada-Nya’. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Rabb mereka dan curahan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. al-Baqarah: 155-157)
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya. Dan Allah terhadap segala sesuatu Maha Mengetahui.” (QS. at-Taghabun: 11).
‘Alqomah berkata tentang maksud ayat ini, “Dia adalah seorang yang tertimpa musibah, maka dia menyadari bahwa hal itu datang dari Allah, oleh sebab itu dia pun merasa ridha dan pasrah.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 345-346)
Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila tertimpa kesulitan dia bersabar, maka hal itu juga kebaikan untuknya.” (HR. Muslim)
Pengaruh Sabar dan Syukur
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya sabar dan syukur menjadi sebab seorang hamba untuk bisa memetik pelajaran dari ayat-ayat yang disampaikan kepadanya. Hal itu dikarenakan sabar dan syukur merupakan pondasi keimanan. Separuh iman itu adalah sabar, separuhnya lagi adalah syukur. Kekuatan iman seorang hamba sangat bergantung pada sabar dan syukur yang tertanam di dalam dirinya. Sementara, ayat-ayat Allah hanya akan bermanfaat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan meyakini ayat-ayat-Nya. Imannya itu pun tidak akan sempurna tanpa sabar dan syukur. Pokok syukur itu adalah tauhid. Adapun pokok kesabaran adalah meninggalkan bujukan hawa nafsu. Apabila seseorang mempersekutukan Allah dan lebih memperturutkan hawa nafsunya, itu artinya dia belum menjadi hamba yang penyabar dan pandai bersyukur. Oleh sebab itulah ayat-ayat yang ada menjadi tidak bermanfaat baginya dan tidak akan menumbuhkan keimanan pada dirinya sama sekali.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/145])
Istighfar dan Taubat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertaubat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah [2] : 222).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Maa’idah [5] : 74).
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur [24] : 31).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari tujuh puluh kali.” (HR. Bukhari. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 49-50 tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Dari al-Agharr bin Yasar al-Muzani radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 50 tahqiq Syaikh Ali al-Halabi)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari arah tenggelamnya niscaya Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 50 tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum berada di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan. Lihat dalam Riyadhush Shalihin, hal. 51tahqiq Syaikh ‘Ali al-Halabi)
Abu Dzar radhiyallahu’anhu berkata, “Tidakkah engkau melihat umat manusia, betapa banyaknya mereka? Tidak ada yang baik diantara mereka kecuali orang yang bertakwa atau orang yang bertaubat.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 225)
Masruq rahimahullah berkata, “Semestinya seorang memiliki kesempatan-kesempatan khusus untuk menyendiri lalu mengingat-ingat dosanya dan memohon ampunan kepada Allah atasnya.” (lihat Min A’lam as-Salaf [1/23])
Muhammad bin Wasi’ rahimahullah mengatakan, “Kalau seandainya dosa-dosa itu mengeluarkan bau busuk niscaya tidak ada seorang pun yang sanggup untuk duduk bersamaku.” (lihat Muhasabat an-Nafs wa al-Izra’ ‘alaiha, hal. 82)
Ibnul Mubarak rahimahullah berkata dalam syairnya,
Kulihat tumpukan dosa mematikan hati
Mengidapnya membuat diri bertambah hina
Meninggalkan dosa adalah kehidupan bagi hati
Yang terbaik untukmu tentu mencampakkannya
(lihat Tazkiyat an-Nufus, hal. 32)
Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Betapa banyak orang yang beristighfar namun dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam namun dirahmati.” Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini beristighfar, akan tetapi hatinya diliputi kefajiran/dosa. Adapun orang itu diam, namun hatinya senantiasa berzikir.” (lihat al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Raqaa’iq, hal. 69)
Habib Abu Muhammad rahimahullah berkata, “Salah satu tanda kebahagiaan bagi seorang hamba adalah apabila dia mati maka ikut mati pula dosa-dosanya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)
Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku terhalang dari melakukan sholat malam selama lima bulan gara-gara sebuah dosa yang pernah aku lakukan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 361)
Sumber: abu0mushlih.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)




